loader image
Close
Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Panen Jagung Naibonat Tunjukkan Hasil Kolaborasi, Produktivitas Naik hingga 3 Kali Lipat

April 1, 2026April 1, 2026 Artikel

Kupang — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur mendampingi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam kegiatan panen simbolis jagung di Kelompok Tani Satu Hati, RT 050/RW 020, Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Rabu, 1 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Ekosistem Jagung Gotong Royong yang diinisiasi oleh Tani Optima Group.

Panen tersebut menunjukkan hasil nyata dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, Tani Optima Group, perbankan, dan kelompok tani. Model kerja bersama ini mendorong penguatan ekosistem pertanian dari pendampingan budidaya hingga dukungan pembiayaan dan pengawasan di lapangan.

Produktivitas Jagung Naik Signifikan

Dalam kesempatan itu, Gubernur NTT menyampaikan bahwa hasil pilot project di Naibonat memperlihatkan lonjakan produksi jagung yang sangat signifikan. Jika sebelumnya produktivitas hanya berada pada kisaran 1,5–2 ton per hektare, kini hasilnya meningkat menjadi sekitar 5–6 ton per hektare.

Menurut Gubernur, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kerja kolaboratif mampu menghasilkan perubahan nyata bagi petani. Ia menilai pendekatan gotong royong menjadi kunci keberhasilan karena setiap pihak mengambil peran dalam satu ekosistem pertanian yang saling mendukung.

Gubernur juga mendorong agar model serupa dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik lahan yang sama. Jika diterapkan secara konsisten, pola ini dinilai mampu meningkatkan produksi jagung hingga dua sampai tiga kali lipat secara lebih luas di NTT.

Selain peningkatan produksi, Gubernur menekankan pentingnya mengembalikan jagung sebagai identitas pangan lokal NTT. Jagung dipandang tidak hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bagian dari budaya pangan masyarakat yang perlu terus diperkuat.

Harga Jagung Meningkat dan Hilirisasi Didorong

Dari sisi ekonomi, komoditas jagung dinilai semakin menjanjikan. Harga jagung saat ini berada di kisaran Rp6.400 per kilogram, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka Rp5.500 per kilogram. Kondisi ini membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani.

Namun, peningkatan produksi dinilai perlu diikuti dengan pengembangan hilirisasi. Gubernur mendorong agar jagung tidak berhenti sebagai hasil panen mentah, tetapi diolah menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan dapat membuka peluang usaha baru, termasuk bagi UMKM.

Pemerintah Provinsi NTT juga menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan melalui pembiayaan dan pendampingan kepada pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk berbasis jagung. Di sisi lain, para penyuluh pertanian diminta terus aktif mendampingi petani, termasuk dalam mendorong percepatan masa tanam berikutnya setelah panen agar produksi tetap terjaga.

Program Naibonat Jadi Contoh Pengembangan Jagung di NTT

Direktur Tani Optima Group, Ferdi, menjelaskan bahwa program ini dibangun berdasarkan pendekatan berbasis masalah yang ditemukan langsung di lapangan selama lima hingga enam bulan pelaksanaan pilot project. Program tersebut dijalankan di lima lokasi berbeda dengan total luasan sekitar 10 hektare, sementara di Naibonat penanaman dilakukan pada lahan sekitar 3 hektare dan panen simbolis dilakukan di lahan 0,5 hektare.

Sebelum intervensi program dilakukan, rata-rata produksi jagung kering petani hanya berkisar 1–1,5 ton per hektare. Setelah penerapan sistem budidaya terintegrasi dan pendampingan, hasil riil panen mencapai sekitar 6,3 ton per hektare, dengan rata-rata kering sekitar 5,12 ton per hektare. Keberhasilan ini juga didukung oleh pemanfaatan teknologi monitoring berbasis data real-time serta adaptasi metode budidaya yang sebelumnya diterapkan di Pulau Jawa.

Menurut Ferdi, potensi pengembangan jagung di NTT sangat besar karena didukung lahan kering sekitar 3 hingga 3,5 juta hektare serta kondisi agroklimat yang sesuai. Ke depan, Tani Optima berencana menerapkan pola tanam dua kali dalam setahun di lahan kering untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Tani Optima Group dan Bank NTT sebagai bentuk dukungan pembiayaan terhadap pengembangan ekosistem jagung. Selain itu, dilakukan pembayaran hasil panen kepada kelompok tani dengan produktivitas 5,12 ton per hektare, dengan nilai mencapai Rp18.304.700 per hektare.

Melalui implementasi kegiatan ini, diharapkan terwujud peningkatan produktivitas jagung, efisiensi biaya produksi, kepastian penyerapan hasil panen, serta terbukanya akses pembiayaan yang lebih luas bagi petani. Kolaborasi di Naibonat menjadi contoh bahwa pengembangan pertanian akan lebih kuat ketika dijalankan dalam ekosistem yang saling mendukung dari hulu sampai hilir.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolda NTT, pimpinan Bio Cycle Group dan Tani Optima Group, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang, direksi Bank NTT, pimpinan Perum Bulog Kanwil NTT, pimpinan PT Jasindo Kanwil Kupang, Ketua Hipmi NTT, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Camat Kupang Timur, Lurah Naibonat, para penyuluh pertanian, serta koordinator BPP dan PPL.

Post navigation

Previous Previous
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT : Bidang Perkebunan Penguatan Disiplin dan Koordinasi Program Jadi Fokus
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search