UPTD Proteksi Laksanakan Pembuatan Pupuk Tricho Kompos untuk Dukung Pertanian Ramah Lingkungan

UPTD Proteksi melaksanakan kegiatan pembuatan pupuk tricho kompos pada Kamis, 30 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam mendorong pertanian ramah lingkungan, meningkatkan kualitas tanah, serta mendukung pengendalian organisme pengganggu tumbuhan atau OPT secara hayati.
Pupuk tricho kompos merupakan pupuk organik yang diperkaya dengan jamur Trichoderma. Dalam bidang pertanian, Trichoderma dikenal sebagai mikroorganisme yang dapat berperan sebagai dekomposer, pupuk hayati, dan agens biokontrol. Pemanfaatan mikroorganisme ini dapat membantu mempercepat pelapukan bahan organik, meningkatkan serapan hara, memperbaiki kondisi tanah, serta menekan perkembangan patogen tertentu di dalam tanah.
Melalui kegiatan ini, UPTD Proteksi menyiapkan bahan organik sebagai media kompos, kemudian mencampurkannya dengan agen hayati Trichoderma. Proses tersebut dilakukan secara bertahap agar bahan organik dapat terurai dengan baik dan menghasilkan kompos yang layak diaplikasikan pada lahan pertanian. Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah dilakukan oleh UPTD Proteksi TPHP dengan menggunakan bahan organik seperti pupuk kandang, sekam, dedak, dan jamur Trichoderma.
Pembuatan pupuk tricho kompos memiliki nilai penting bagi petani. Selain memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar, pupuk ini juga dapat menjadi alternatif pendukung dalam pengelolaan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk organik berbasis hayati selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan karena tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Secara teknis, Trichoderma dapat membantu proses dekomposisi bahan organik menjadi unsur hara yang lebih tersedia bagi tanaman. Penelitian pada Jurnal Tanah dan Iklim menjelaskan bahwa Trichoderma spp. dapat mendekomposisi bahan organik di sekitar perakaran, menambah ketersediaan hara, serta berpotensi sebagai pupuk hayati.
Selain mendukung kesuburan tanah, Trichoderma juga berperan dalam pengendalian hayati. Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa Trichoderma memiliki potensi sebagai agen pengendalian hayati karena kemampuannya menghambat pertumbuhan berbagai patogen tanaman. Aplikasi Trichoderma dalam bentuk kompos dapat dilakukan saat pengolahan tanah dan dapat dilanjutkan dengan aplikasi susulan pada area pangkal tanaman sesuai kebutuhan teknis lapangan.
Kegiatan pembuatan pupuk tricho kompos ini juga memperkuat peran UPTD Proteksi sebagai unit teknis yang mendukung pelayanan perlindungan tanaman. Dalam dokumen LKIP Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, UPT Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan tercatat sebagai bagian dari unit pendukung pelaksanaan urusan pertanian di lingkungan dinas.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendorong penggunaan teknologi pertanian yang mudah diterapkan, hemat biaya, dan sesuai dengan kondisi petani di lapangan. Pembuatan pupuk tricho kompos menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkuat pertanian ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada input kimia, serta mendukung produktivitas tanaman secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, UPTD Proteksi diharapkan dapat terus menjadi pusat pembelajaran teknis bagi petugas, penyuluh, dan petani dalam pengembangan pupuk organik hayati. Dengan pemanfaatan tricho kompos secara tepat, petani dapat memperoleh manfaat ganda, yaitu tanah yang lebih sehat dan tanaman yang lebih kuat terhadap gangguan penyakit.
