Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Gandeng 11 Produsen dan Pupuk Indonesia dalam Gelar Teknologi di BBI Tarus

Kupang, 2 Mei 2026. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar kegiatan Launching Gelar Teknologi, Penanaman Perdana Jagung Hibrida dan Bawang Merah TSS di lahan Balai Benih Induk atau BBI Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, produsen benih, mitra pertanian, penyedia pupuk, lembaga teknis, perguruan tinggi, BUMN, pemerintah desa, penyuluh, dan petani. Melalui Gelar Teknologi di BBI Tarus, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih tepat, produktif, dan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, S.P., hadir dalam kegiatan tersebut. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur, perwakilan Perum BULOG Kantor Wilayah Kupang, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, perwakilan dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, kepala desa setempat, Ketua Tim Kerja Penyuluh Provinsi NTT, para produsen dan mitra pertanian, serta sahabat petani dan undangan lainnya.
Dalam kegiatan ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menggandeng 11 produsen dan mitra pertanian. Mereka terdiri atas PT Shiram Seed Indonesia, PT Sage Mashlahat Indonesia, PT Jafran Indonesia, PT Soebandi Raja Agriculture, PT Maxxi Agri Indonesia, PT Duo Sreyna Niaga, CV Bunga Tani Sejahtera, PT Restu Agropro Jayamas, PT Agrosid Manunggal Sentosa, PT East West Indonesia, dan PT Nufarm Indonesia NTT.
Selain 11 produsen tersebut, kegiatan ini juga melibatkan PT Pupuk Indonesia Cabang Kupang. Kehadiran Pupuk Indonesia memiliki peran penting karena pupuk menjadi salah satu faktor pendukung dalam peningkatan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura. Pada 2026, alokasi pupuk bersubsidi untuk NTT dilaporkan meningkat menjadi sekitar 194.600 ton untuk mendukung peningkatan luas tanam dan produksi pertanian.
Acara diawali dengan doa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan produsen jagung yang disampaikan oleh Pimpinan PT Soebandi Raja Agriculture, Nina Efiana. Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan Kementerian Pertanian melalui Kepala BBPP Provinsi NTT, Roby Dermawan, M. Eng. Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, S.P., menyampaikan arahan sebelum kegiatan penanaman bersama dimulai.
Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman bersama jagung hibrida dan bawang merah TSS. Penanaman ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pilihan varietas dan teknologi budidaya yang dapat mendukung peningkatan hasil pertanian. Jagung hibrida dipilih karena memiliki potensi produktivitas tinggi, sedangkan bawang merah TSS menjadi salah satu inovasi budidaya hortikultura yang penting untuk diperkenalkan kepada petani karena menggunakan benih berupa biji, bukan umbi bibit seperti pola tanam konvensional.
Penggunaan bawang merah TSS memiliki nilai strategis dalam pengembangan hortikultura daerah. Teknologi ini dapat menjadi alternatif bagi petani dalam memperoleh benih yang lebih efisien, sehat, dan mudah didistribusikan. Dengan penerapan budidaya yang tepat, bawang merah TSS berpotensi mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi biaya benih, serta penguatan ketersediaan bawang merah di Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan ini juga relevan dengan perkembangan produksi jagung di NTT. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT mencatat bahwa luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 114,52 ribu hektare. Angka ini naik 5,70 ribu hektare atau 5,24 persen dibandingkan 2024. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2025 mencapai 305,34 ribu ton, naik 12,28 ribu ton atau 4,19 persen dibandingkan 2024.
BBI Tarus memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan benih dan teknologi pertanian di NTT. BBI Tarus juga menjadi lokasi percontohan bagi pengembangan jagung. Dalam rapat persiapan gelar teknologi jagung, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mencatat bahwa lahan di BBI Tarus direncanakan sebagai lokasi demplot berbagai varietas unggul jagung dari masing-masing produsen. Demplot tersebut menjadi sarana evaluasi dan pembelajaran bagi petani serta pemangku kepentingan.
Melalui gelar teknologi ini, petani tidak hanya menyaksikan penanaman perdana. Petani juga memperoleh gambaran langsung tentang pentingnya penggunaan benih bermutu, pengolahan lahan, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan penerapan teknologi budidaya yang lebih terukur. Khusus pada bawang merah TSS, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bagi petani untuk mengenal teknologi pembenihan melalui biji, teknik persemaian, pemindahan bibit, pemeliharaan tanaman, hingga pengelolaan produksi secara lebih efisien.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam penguatan pertanian daerah. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan produsen benih, penyedia pupuk, lembaga teknis, perguruan tinggi, pelaku usaha, penyuluh, pemerintah desa, dan petani agar inovasi pertanian dapat diterapkan secara nyata di lahan produksi.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT berharap kegiatan ini dapat mempercepat adopsi teknologi pertanian di tingkat petani. Dengan dukungan 11 produsen, Pupuk Indonesia, dan seluruh mitra terkait, Gelar Teknologi BBI Tarus diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas jagung hibrida dan pengembangan bawang merah TSS di Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan ini juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Melalui penggunaan varietas unggul, teknologi bawang merah TSS, pendampingan teknis, dan kolaborasi multipihak, sektor pertanian NTT diharapkan semakin produktif, adaptif, dan memberi manfaat langsung bagi kesejahteraan petani.


