Perbanyakan APH Trichoderma di Laboratorium Lapangan Sikka Menghasilkan 118 Bungkus Starter

Perbanyakan APH Trichoderma kembali dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT melalui Laboratorium Lapangan Sikka. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya mendukung pengendalian hama dan penyakit tanaman secara ramah lingkungan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Seksi Pengelolaan Laboratorium Hayati dan Biopestisida, UPTD Perbenihan, Kebun Dinas, dan Laboratorium Hayati Perkebunan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan petugas yang bertugas di Laboratorium Lapangan Sikka dan Sub Laboratorium Nita.
Dalam proses perbanyakan ini, petugas menggunakan media beras sebanyak 10 kilogram. Dari media tersebut, Laboratorium Lapangan Sikka berhasil menghasilkan 118 bungkus starter APH Trichoderma.
Perbanyakan APH Trichoderma sebagai Dukungan Pengendalian Tanaman
Perbanyakan APH Trichoderma merupakan salah satu langkah penting dalam penguatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Agen hayati ini digunakan untuk membantu menekan perkembangan penyakit tanaman.
Trichoderma dikenal sebagai agen pengendali hayati yang banyak digunakan dalam sektor pertanian. Penggunaannya menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pengendalian berbasis bahan kimia.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mendorong pemanfaatan teknologi hayati. Langkah ini juga mendukung pertanian yang lebih sehat, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kebutuhan petani.
Pelaksanaan Kegiatan di Laboratorium Lapangan Sikka
Kegiatan perbanyakan dilakukan di Laboratorium Lapangan Sikka dengan menggunakan media beras. Media tersebut dipilih karena dapat mendukung pertumbuhan Trichoderma dalam proses perbanyakan.
Sebanyak 6 pegawai Provinsi NTT terlibat langsung dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari Laboratorium Lapangan Sikka dan Sub Laboratorium Nita.
Pelibatan petugas lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga mutu proses perbanyakan. Dengan demikian, starter yang dihasilkan dapat digunakan secara optimal untuk kebutuhan pengendalian tanaman.
Dari penggunaan 10 kilogram beras, kegiatan ini menghasilkan 118 bungkus starter APH Trichoderma. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perbanyakan dapat dilakukan secara efektif di laboratorium lapangan.
Starter yang dihasilkan menjadi bahan penting untuk mendukung kegiatan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Keberadaannya dapat membantu petani memperoleh solusi pengendalian yang lebih aman.
Selain itu, hasil perbanyakan ini juga memperkuat peran laboratorium hayati di daerah. Laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga pusat dukungan teknis bagi pertanian.
Komitmen Dinas dalam Penguatan Pertanian Ramah Lingkungan
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT terus mendorong pengembangan agen pengendali hayati. Upaya ini sejalan dengan kebutuhan pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Penggunaan APH Trichoderma diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis. Dengan begitu, kesehatan tanah dan lingkungan pertanian dapat tetap terjaga.
Ke depan, kegiatan serupa perlu terus diperkuat melalui dukungan sarana, petugas, dan laboratorium lapangan. Langkah ini penting agar manfaat agen hayati semakin luas dirasakan petani.
Kesimpulan
Perbanyakan APH Trichoderma di Laboratorium Lapangan Sikka menjadi bentuk nyata dukungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT. Kegiatan ini menghasilkan 118 bungkus starter dari 10 kilogram media beras.
Melalui kegiatan ini, pemanfaatan agen pengendali hayati semakin diperkuat. APH Trichoderma diharapkan mampu mendukung pengendalian hama dan penyakit tanaman secara lebih ramah lingkungan.
