Dari Seragam ke Ladang, AIPTU Agustinus SH Edukasi Petani Lewat Budidaya Jagung di Lembata

Dari Seragam ke Ladang, AIPTU Agustinus SH Edukasi Petani Lewat Budidaya Jagung di Lembata

Polisi tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga tampil sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Hal ini dibuktikan oleh anggota Sikum Polres Lembata, AIPTU Agustinus Umbu Lodong SH yang mengubah lahan tidur seluas kurang lebih dua hektare di wilayah Waikomo tepatnya di belakang area Terminal Barat Lewoleba, menjadi lahan produktif melalui budidaya jagung hibrida.

Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi langsung bagi petani lokal tentang teknik budidaya jagung yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Kepada Jurnal Polisi, AIPTU Agustinus, SH menjelaskan bahwa proses pengolahan lahan dimulai sejak 20 November 2025, dengan melibatkan tiga unit traktor besar guna mempercepat pembajakan serta memastikan kesiapan tanah secara optimal. Penanaman jagung dilakukan pada 10 Desember 2025, dan hingga kini tanaman telah berusia dua bulan sepuluh hari, dengan pertumbuhan yang sehat, merata, dan menjanjikan hasil panen maksimal. “Kegiatan ini bukan semata-mata produksi, tetapi juga sebagai media edukasi lapangan bagi petani, mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, perawatan, hingga waktu panen yang ideal,” ujarnya.

Menurutnya, jagung hibrida ideal dipanen pada usia tiga bulan. Jika melebihi batas tersebut, hasil produksi cenderung menurun akibat perlambatan pertumbuhan dan perawatan yang kurang efektif. “Jagung hibrida paling optimal dipanen saat usia tiga bulan. Jika lewat, kualitas dan kuantitas hasil bisa menurun,” tegasnya.

AIPTU Agustinus menargetkan panen berlangsung pada awal April 2026, yang kemudian akan langsung disusul dengan penanaman kembali guna menjaga kesinambungan produksi dan memaksimalkan pemanfaatan lahan.
Tak hanya fokus pada proses tanam, ia juga mendorong Dinas Pertanian Kabupaten Lembata agar menyediakan mesin perontok jagung, demi membantu petani dalam proses pascapanen.

Pasalnya, pada musim tanam sebelumnya, proses perontokan masih dilakukan secara manual. “Tahun lalu saya masih merontokkan secara manual, dan hasil bersih mencapai empat ton jagung pipil. Jika tersedia mesin perontok, tentu produktivitas dan efisiensi kerja petani akan jauh lebih meningkat,” ungkapnya.

Menurutnya, dukungan sarana pascapanen sangat penting dalam meningkatkan produktivitas, menekan biaya operasional, serta mempercepat distribusi hasil panen ke pasar.

Langkah konkret ini sejalan dengan komitmen Polres Lembata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus mempertegas peran Polri sebagai mitra strategis masyarakat dalam pembangunan sosial dan ekonomi berbasis kerakyatan.

Dari seragam ke sawah, AIPTU Agustinus membuktikan bahwa pengabdian Polri tidak hanya terpatri dalam tugas menjaga keamanan, tetapi juga dalam kerja nyata membangun kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: Jurnalpolisi.co.id

Similar Posts