Balasan Tahun Tanpa Hortikultura, Petani Kualeu Bangkit Bersama CIRMA: Sekali Panen Tembus 30 Juta

SOE, KORANTIMOR.COM – Di Desa Kualeu, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mata air yang tak pernah kering jadi saksi bisu perjalanan panjang para petani yang selama belasan tahun mati gaya urusan hortikultura.
Air ada, tanah subur, tenaga pun tersedia, tapi tanaman selalu kalah oleh satu hal: ternak dibiarkan bebas. Setiap bibit yang ditanam malah jadi santapan sapi dan babi. Alhasil, bertahun-tahun warga memilih pasrah, membiarkan peluang ekonomi lewat begitu saja.
Tapi enam bulan terakhir, suasana berubah. Pelan-pelan, tapi pasti. Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (CIRMA) datang bukan membawa proyek instan, tapi pendekatan sabar, duduk dengar cerita petani, ajar dasar-dasar organik, ikut olah lahan, dan sediakan bibit berkualitas.
Dari situ lahirlah Kelompok Tani Tuik Bukael, beranggotakan 22 orang. Dulu pesimis, sekarang justru rebutan mau belajar tanam hortikultura.
Ketika Korantimor.com berkunjung Senin (8/12/2025), wajah-wajah cerah petani tampak di antara deretan paria, buncis, tomat, ketimun, cabai hingga sayuran lain yang tumbuh rapi.
Mayoritas petani setuju: CIRMA bukan sekadar program, mereka datang mengubah pola pikir.
Salah satu cerita paling mencolok datang dari Simon Kase, seorang ayah yang baru pulang dari Malaysia. Dua tahun lalu ia masih buruh di negeri orang, tapi kini ia tersenyum lebar menatap 10 arenya sendiri.
“Paria saya jual delapan buah dua puluh ribu. Satu kali panen saja saya dapat tiga puluh juta,” tuturnya, matanya berbinar, seolah angka itu masih sulit ia percaya.

Simon mengaku tidak pernah membayangkan tanah sekecil itu bisa menghasilkan lebih besar dari gajinya di perantauan.
“Serius, uang di kampung sendiri lebih banyak dari rantauan. CIRMA bikin kami percaya bertani itu bisa bikin hidup berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendampingan yang diberikan bukan teori kosong. Petani diajak bikin pupuk organik bareng, diajari cara olah tanah yang benar, sampai dapat bibit yang unggul.
“Kalau bukan karena CIRMA, mungkin sampai sekarang kita masih ragu mulai tanam,” katanya.
Kini Kualeu berubah wajah. Dari desa yang dulu takut menanam, kini mulai panen berkali-kali. Debit air melimpah yang dulu tidak dimanfaatkan, kini jadi modal utama.
CIRMA tak hanya membangun kebun, mereka membangun keyakinan bahwa masa depan tidak harus dicari jauh-jauh. Kadang, kesejahteraan itu sudah ada di tanah sendiri, tinggal menunggu orang yang mau merawatnya.
