Dinas Pertanian NTT Dorong Hilirisasi dan Program Pekarangan Pangan Lestari untuk Tekan Kemiskinan

Kupang-Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat berbagai program strategis guna meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan angka kemiskinan. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Joaz Bily Umbu Wanda, menyampaikan bahwa seluruh program yang berjalan sejak awal 2025 didukung penuh melalui APBD Provinsi serta sejalan dengan visi-misi Gubernur NTT dalam kerangka Dasa Cita, terutama poin pertama dan ke-10: “Dari ladang dan laut menuju pasar” serta gerakan “Ayo Bangun NTT”.

Menurutnya, seluruh program tersebut dirancang untuk membangun pertanian dari hulu hingga hilir, memperkuat rantai pasok, meningkatkan pendapatan petani, serta menciptakan kapitalisasi ekonomi yang berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan.

Program Pekarangan Pangan Lestari Sentuh 22 Kabupaten/Kota

Salah satu program prioritas adalah Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang kini telah berjalan di 22 kabupaten/kota. Program ini menyasar kelompok tani di lahan marginal, termasuk petani miskin dan rentan.

Melalui P2L, pemerintah membantu bibit tanaman hortikultura seperti sawi, kangkung, paria, kacang panjang, buncis, cabai, tomat, dan terong yang dapat dipanen dalam 2-3minggu.

Testimoni para penerima sangat positif. Mereka merasa pemerintah benar-benar hadir. Selain menambah pendapatan, program ini jadi sarana edukasi bagi keluarga dan anak-anak tentang cara menanam hingga menjual hasil panen,” ungkap Joaz.

Saat ini, P2L telah menyentuh 154 kepala keluarga, dan akan terus diperluas.

Program Tembakau dan Cengkeh Ciptakan Ekonomi Baru

Dinas Pertanian NTT juga menjalankan program penanaman tembakau dan cengkeh di sekitar 180 hektare di Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu dan Malaka menggunakan dana bagi hasil. Program ini disebut menciptakan “siklus ekonomi baru” karena menekan biaya konsumsi masyarakat desa yang selama ini membeli tembakau dari luar.

Kegiatan ini 100 persen sudah berjalan dan memberi dampak nyata bagi petani,” kata Joaz.

Pengembangan Tanaman Pangan di Lokasi Miskin dan Rentan

Program lain yang berjalan sejak Oktober 2025 meliputi demplot tanaman pangan di wilayah dengan irisan kemiskinan tinggi, meliputi:Padi: 60 hektare, Jagung: 6 hektare, Sorgum: 15 hektare, Kacang hijau: 10 hektare dan Sayuran: dalam bentuk paket benih

Bantuan benih tidak hanya diberikan kepada kelompok tani, tetapi juga kepada:

LSM, Organisasi masyarakat, Penyandang disabilitas, Media dan wartawan, Lembaga keagamaan (gereja, MUI, Hindu Dharma)

Ini merupakan bagian dari gerakan Ayo Bangun NTT serta mendukung penyediaan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis.

Ke depan, sistem pasokan sayur untuk dapur program bergizi akan menggunakan pola multi level marketing (MLM), di mana satu dapur memiliki 3–4 kelompok tani sebagai pemasok tetap.

Alat Mesin Pertanian 100 Persen Tersalurkan

Dinas Pertanian juga memastikan penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan) mencapai 100 persen, meliputi:

Traktor roda dua dan empat, Pompa air, Alat panen jagung dan Mesin pengolahan hasil.

Program perbaikan alsintan untuk wilayah berbatu dan berbukit juga berjalan baik.

Kolaborasi dengan DPD RI, Apindo, dan LSM

Pengembangan jagung dilakukan melalui kolaborasi dengan DPD RI, Apindo, dan sejumlah lembaga lainnya. Panen bersama akan kembali dilakukan dalam waktu dekat.

UPT Berperan Aktif dalam Perbanyakan Benih dan Laboratorium

Seluruh UPT Dinas Pertanian NTT melaksanakan perbanyakan benih, produksi pupuk hayati, dan riset laboratorium untuk mendukung program pertanian berbasis data dan teknologi.

Realisasi Anggaran Ditargetkan Capai 90 Persen

Joaz menyampaikan optimisme bahwa realisasi anggaran hingga akhir 2025 dapat mencapai 90 persen, sama seperti capaian tahun sebelumnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Gubernur NTT, Wakil Gubernur, serta seluruh unsur pemerintah dan lembaga mitra yang telah mendukung penuh pembangunan pertanian di seluruh NTT.

Seperti pesan Presiden Soekarno tahun 1952, pangan adalah harga diri bangsa. Maka jika kita berdaulat pangan, kita menjaga harga diri itu.” ***

Sumber : Dinas Pertanian NTT Dorong Hilirisasi dan Program Pekarangan Pangan Lestari untuk Tekan Kemiskinan | Suara NTT

Similar Posts