Festival Pangan B2SA di Desa Kabukarudi Dorong Ekonomi Desa dan Cegah Stunting di Sumba Barat

Festival Pangan B2SA di Desa Kabukarudi menjadi momentum penting dalam mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga, percepatan penurunan stunting, dan peningkatan pemberdayaan ekonomi desa di Kabupaten Sumba Barat. Kegiatan ini diselenggarakan di Desa Kabukarudi, Kecamatan Lamboya, sebagai bagian dari upaya bersama pemerintah dan masyarakat dalam membangun desa yang sehat, mandiri, dan produktif.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua hari, yakni Jumat, 27 Februari 2026 dan Sabtu, 28 Februari 2026. Rangkaian acara tidak hanya menampilkan festival pangan, tetapi juga musyawarah desa, penyerahan bantuan benih hortikultura, pemberian makanan B2SA bagi anak-anak, dukungan terhadap UMKM lokal, gerakan tanam bersama, hingga lomba cipta menu berbasis pangan lokal.
Musyawarah Desa Perkuat Sinergi Program Pemerintah dan Masyarakat
Pada Jumat, 27 Februari 2026, dilaksanakan kegiatan musyawarah desa di Desa Kabukarudi. Musyawarah ini menjadi forum rembuk bersama untuk membahas pendapat, tanggapan, serta dukungan pemerintah melalui instansi teknis terkait, khususnya pada bidang ekonomi kerakyatan yang diarahkan untuk mendukung penurunan kemiskinan dan stunting di desa.
Forum musyawarah desa ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam merancang langkah pembangunan yang tepat sasaran. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan bantuan benih tanaman hortikultura kepada masyarakat penerima manfaat sebagai bentuk dukungan nyata untuk memperkuat produksi pangan rumah tangga dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Pembukaan Festival B2SA Dihadiri Pemerintah Daerah dan Provinsi

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, rangkaian utama Festival Pangan B2SA resmi dilaksanakan. Acara diawali dengan laporan Ketua Panitia Pelaksana, dilanjutkan dengan sambutan Bupati Sumba Barat, serta sambutan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang disampaikan oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi NTT.
Dalam sambutan tersebut, disampaikan ajakan resmi untuk membuka Festival Pangan B2SA dan kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Desa di Kabupaten Sumba Barat, khususnya di Desa Kabukarudi. Kehadiran pemerintah kabupaten dan provinsi menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat program pangan lokal, perbaikan gizi masyarakat, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi desa.
Pemberian Makan B2SA dan Bantuan Benih Dukung Perbaikan Gizi Keluarga

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah pemberian makan B2SA kepada baduta stunting serta anak-anak dengan gizi kurang dan gizi buruk. Sebanyak 150 anak menerima makanan bergizi dalam kegiatan ini sebagai bentuk intervensi langsung untuk mendukung perbaikan status gizi anak di wilayah tersebut.
Selain itu, dilakukan pula penyerahan bantuan benih tanaman hortikultura secara simbolis kepada 10 orang penerima. Bantuan ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan dan lahan produktif secara optimal, sehingga kebutuhan pangan keluarga dapat terpenuhi dengan lebih baik, beragam, dan berkelanjutan.
UMKM Lokal dan Gerakan Tanam Bersama Perkuat Ekonomi Desa
Kegiatan Festival Pangan B2SA juga diramaikan dengan kunjungan ke stan UMKM lokal yang menjual produk-produk unggulan masyarakat Desa Kabukarudi. Kehadiran stan UMKM ini menjadi sarana promosi hasil olahan lokal sekaligus wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat agar lebih mandiri dan memiliki nilai tambah dari potensi yang dimiliki desa.
Selain penguatan UMKM, kegiatan ini juga diisi dengan gerakan tanam bersama di lahan yang telah disiapkan. Aksi tanam bersama tersebut menjadi simbol semangat kolektif dalam membangun ketahanan pangan berbasis desa. Dalam rangkaian yang sama, masyarakat juga mendapat demonstrasi pembuatan POC (Pupuk Cair Organik) dengan memanfaatkan bahan-bahan murah dan mudah diperoleh, sehingga dapat diterapkan secara sederhana di tingkat rumah tangga maupun kelompok tani.
Bimtek Olahan Ubi Dorong Produk Unggulan dan Program OVOP
Penggerak PKK Desa turut berperan aktif melalui kegiatan bimbingan teknis pembuatan aneka olahan ubi. Dalam BIMTEK tersebut, masyarakat diperkenalkan pada proses pembuatan kroket ubi, kue ubi ceria, dan stik ubi sebagai contoh diversifikasi pangan lokal yang bernilai ekonomis.
Dari berbagai olahan yang diperkenalkan, stik ubi diharapkan menjadi salah satu produk unggulan desa yang mampu mendukung program One Village One Product (OVOP). Langkah ini sangat penting karena tidak hanya menguatkan konsumsi pangan lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga, dan membangun identitas produk khas desa.
Lomba Cipta Menu B2SA dan Pagelaran Seni Budaya Semarakkan Acara

Kemeriahan Festival Pangan B2SA semakin terasa dengan adanya lomba cipta menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) yang diikuti oleh 11 desa se-Kecamatan Lamboya. Lomba ini menjadi media edukasi yang efektif untuk mendorong kreativitas masyarakat dalam mengolah pangan lokal menjadi menu sehat, menarik, dan bernilai gizi tinggi.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah lomba. Sebagai acara puncak, masyarakat setempat menampilkan pagelaran seni budaya berupa tari-tarian dan pertunjukan menyanyi. Penampilan ini tidak hanya memeriahkan festival, tetapi juga memperlihatkan bahwa pembangunan desa dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal.
Kesimpulan
Festival Pangan B2SA di Desa Kabukarudi menjadi bukti bahwa penguatan ketahanan pangan, percepatan penurunan stunting, dan pemberdayaan ekonomi desa dapat dijalankan secara terpadu melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan intervensi gizi dan dukungan benih hortikultura, tetapi juga mendorong pengembangan UMKM, gerakan tanam, inovasi olahan pangan lokal, serta penguatan produk unggulan desa.
Melalui kegiatan seperti ini, Desa Kabukarudi menunjukkan potensi besar sebagai contoh pembangunan desa berbasis pangan lokal, kesehatan masyarakat, dan ekonomi kerakyatan. Diharapkan semangat B2SA, pemanfaatan potensi lokal, dan program OVOP dapat terus berkembang untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sumba Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur secara berkelanjutan.
