loader image
Close
Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Inovasi Pertanian NTT: Dari Pengendalian Hama hingga Peningkatan Produktivitas

October 15, 2024October 15, 2024 Artikel

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kelangkaan pupuk, sebuah laboratorium kecil di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, telah menjadi mercusuar inovasi pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sub laboratorium hayati ini, di bawah naungan UPTD Perbenihan, Kebun Dinas dan Laboratorium Hayati (PKDLHP), telah konsisten mengembangkan solusi ramah lingkungan untuk masalah pertanian sejak tahun 1996.

Menjaga Tradisi, Membawa Inovasi

“Sub Laboratorium ini telah beroperasi selama hampir tiga dekade, namun semangat inovasi kami tidak pernah pudar,” ujar El Aplugi, SP, Koordinator Sub Laboratorium Baumata. Laboratorium ini, yang berada di bawah Seksi Pengelolaan Laboratorium Hayati dan Biopestisida UPTD PKDLHP, memiliki dua fokus utama yang telah mengubah wajah pertanian di NTT:

  1. Pengendalian OPT Oryctes dengan Baculovirus Sejak awal pendiriannya, laboratorium ini telah menjadi garda terdepan dalam memerangi hama Oryctes, yang terkenal merusak tanaman kelapa. “Baculovirus adalah senjata rahasia kami,” jelas Aplugi. “Virus ini secara spesifik menyerang Oryctes tanpa membahayakan serangga menguntungkan atau lingkungan.” Keberhasilan program ini telah membantu ribuan petani kelapa di NTT mempertahankan produksi mereka, menjaga kelestarian industri kopra yang vital bagi ekonomi daerah.
  1. Revolusi PGPR dalam Budidaya Hortikultura Inovasi terbaru dari tim Aplugi adalah pengembangan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). “PGPR adalah terobosan yang mengubah cara kami melihat pertanian,” kata Aplugi dengan antusias. “Ini bukan sekadar pupuk, tapi sekutu alami tanaman yang meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit.” Hasil penerapan PGPR pada tanaman kangkung telah menunjukkan hasil yang menakjubkan. Petani melaporkan pertumbuhan yang lebih cepat dan subur, serta waktu panen yang lebih singkat. “Dengan PGPR, kami bisa panen lebih cepat dan hasil lebih melimpah. Ini sungguh membantu di tengah kelangkaan pupuk,” ungkap salah seorang petani hortikultura setempat.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Tanaman kangkung sebelum aplikasi PGPR

Tanaman kangkung setelah kurang lebih 2 hari pengaplikasian PGPR dan siap dipanen

Inovasi dari laboratorium Baumata tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Petani dapat menghemat biaya produksi, terutama dalam hal pembelian pupuk kimia yang semakin langka dan mahal.

“Kami tidak hanya membantu petani menghasilkan panen yang lebih baik, tetapi juga mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan,” jelas Ir. Maria I. R. Manek, M.Sc, Kepala UPTD PKDLHP. “Ini adalah langkah penting menuju ketahanan pangan yang ramah lingkungan di NTT.”

Visi Ke Depan

Di bawah kepemimpinan Ibu Cristiana Hukom, SP. MT sebagai Plt. Kepala Seksi, laboratorium terus mengembangkan inovasi baru. “Kami sedang meneliti potensi PGPR untuk tanaman lain, serta mencari cara untuk meningkatkan efektivitas Baculovirus,” ungkap Hukom.

Laboratorium juga berencana untuk memperluas jangkauan layanannya, dengan harapan dapat membantu lebih banyak petani di seluruh NTT. “Mimpi kami adalah melihat setiap petani di NTT mengadopsi praktik pertanian yang ramah lingkungan dan produktif,” tambah ibu Maria.

Sub laboratorium hayati di Baumata adalah bukti nyata bahwa inovasi lokal dapat membawa perubahan besar. Dari pengendalian hama yang efektif hingga peningkatan produktivitas tanaman, laboratorium ini telah membuktikan diri sebagai aset berharga bagi komunitas pertanian di NTT.

Dengan komitmen yang kuat terhadap penelitian dan pengembangan, serta dukungan dari pemerintah daerah, masa depan pertanian di NTT tampak cerah. Laboratorium kecil di Baumata ini mungkin hanya setitik di peta, namun dampaknya terasa hingga ke provinsi, membawa harapan bagi pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan di NTT.

Post navigation

Previous Previous
Rektor UNIPA Maumere Pantau Langsung Mahasiswa PKL di NTT
NextContinue
UPTD PKDLHP NTT Berdayakan Petani Cabai melalui Perbanyakan APH Trichoderma
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search