Membangun Generasi Petani Cerdas: Pelatihan CPNS di Laboratorium Hayati dan Biopestisida untuk Penguatan Pertanian Berkelanjutan

Kupang, 2025 – Di tengah upaya pemerintah daerah dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, UPTD Perbenihan, Kebun Dinas dan Laboratorium Hayati Perkebunan (PKDLHP) mengambil langkah strategis dengan melibatkan generasi baru aparatur sipil negara (ASN) tahun anggaran 2025, sebanyak 8 orang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) ditempatkan secara khusus Seksi Pengelolaan Laboratorium Hayati dan Biopestisida , sebagai bagian dari program penguatan kapasitas teknis laboratorium pertanian di tingkat kabupaten.

Program ini tidak sekadar formalitas penempatan pegawai, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam pengembangan sistem pertanian berbasis sains. Melalui bimbingan intensif oleh para ahli, para CPNS ini mulai menjalani pelatihan praktik langsung di laboratorium hayati, dengan fokus pada pengamatan dan identifikasi agens pengendali hayati—organisme mikroskopis yang berperan penting dalam mengendalikan hama tanaman secara alami, tanpa merusak ekosistem.

Belajar dari Mikroskop: Langkah Awal Menjadi Ahli Biopestisida

Di balik meja kerja laboratorium yang steril dan teratur, para CPNS tampak serius memperhatikan objek kecil di bawah lensa mikroskop. Mereka sedang mengamati dua jenis bakteri pengendali hayati yang telah diremajakan (subkultur) pada media agar: Bacillus spp. dan Pseudomonas spp. Kedua mikroorganisme ini dikenal luas karena kemampuannya dalam menekan pertumbuhan patogen tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman, bahkan merangsang pertumbuhan akar.

“Melalui aktivitas pengamatan mikroskopis, pengukuran populasi mikroba, serta identifikasi morfologi dan perilaku koloni, mereka belajar bukan hanya tentang mikrobiologi, tetapi juga tentang filosofi pertanian masa depan yang lebih hijau, cerdas, mandiri, ramah dan berkelanjutan lingkungan” ujar Ibu Ir. Maria I. R. Manek, M.Si. , Kepala UPTD PKDLHP yang akrab disapa Ibu Dewi Manek .

Sebagai sosok yang telah lama berkecimpung di dunia perbenihan dan bioteknologi pertanian, Ibu Dewi menekankan pentingnya regenerasi ilmuwan lokal. “Kita harus mempersiapkan ASN kita. Setiap kabupaten harus memiliki SDM handal yang mampu mengelola laboratorium sendiri, mendeteksi hama, dan memproduksi biopestisida lokal. Inilah awal dari kemandirian pertanian kita,” tambahnya.

Laboratorium sebagai Jantung Inovasi Pertanian

Di bawah koordinasi Corry Nai Ulu , selaku Penanggung Jawab Laboratorium, para peserta pelatihan diajak untuk tidak hanya menjadi operator alat, tetapi juga pemikir kritis. Mulai dari proses sterilisasi alat, pembuatan media, inkubasi, hingga dokumentasi hasil pengamatan, semua dilakukan dengan disiplin ilmiah yang ketat.

“Setiap tetes cairan, setiap goresan ose, punya arti. Kesalahan kecil bisa mengubah hasil. Makanya, kami ajarkan mereka untuk teliti, akurat, sabar, dan mencintai proses,” kata Corry dengan senyum penuh semangat.

Pelatihan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga membentuk karakter ASN yang inovatif dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Ke depan, lulusan pelatihan ini diharapkan dapat menjadi pelopor pengembangan Sub Laboratorium Hayati di kabupaten-kabupaten di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menuju Pertanian Masa Depan yang Mandiri dan Ramah Lingkungan

Langkah kecil di laboratorium hari ini bisa menjadi benih besar bagi ketahanan pangan di masa depan. Dengan memperkuat kapasitas SDM di bidang bioteknologi pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan membuka jalan bagi penggunaan biopestisida lokal yang murah, efektif, dan aman bagi petani maupun konsumen.

“Ini bukan sekadar pelatihan CPNS. Ini adalah bagian dari revolusi pertanian berbasis sains di daerah kita. Kami percaya, dari laboratorium-laboratorium kecil ini, akan lahir solusi-solusi besar untuk pertanian Indonesia,” tutup Ibu Dewi Manek dengan penuh keyakinan. (CNU)

Similar Posts