Dari Lapas untuk Ketahanan Pangan: Distankp NTT Dorong Pertanian Produktif di Lapas Perempuan Kupang

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur beserta jajaran melakukan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Kupang untuk meninjau potensi lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai area pertanian produktif bagi warga binaan.

Kamis 5 Februari 2026, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur beserta jajaran melakukan kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Kupang untuk meninjau potensi lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai area pertanian produktif bagi warga binaan.

Kunjungan ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan yang ada di Lapas sebagai sarana pembinaan kemandirian melalui kegiatan pertanian. Dalam peninjauan tersebut, rombongan melihat langsung kondisi lahan yang direncanakan untuk ditanami berbagai komoditas pertanian, mulai dari tanaman hortikultura hingga jagung. Pemanfaatan lahan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan juga menjadi sarana pemberdayaan bagi penghuni lapas, khususnya perempuan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mengungkapkan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis tidak hanya dalam penyediaan pangan, tetapi juga sebagai media pemberdayaan dan pembinaan keterampilan. “Melalui kegiatan budidaya pertanian di lingkungan lapas, kami berharap warga binaan, terutama perempuan, dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna setelah mereka kembali ke masyarakat,” ungkap Kepala Dinas.

Lebih lanjut, Kepala Dinas menyampaikan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk memaksimalkan potensi lahan tidur. Ia menekankan bahwa perempuan di Lapas Perempuan Kelas IIB Kupang adalah penggerak ekonomi keluarga dan dengan adanya kegiatan pertanian ini, diharapkan mereka bisa menyiapkan makanan dan meningkatkan perekonomian keluarga mereka setelah dibebaskan. Dalam waktu dekat, rencananya akan ditanam jagung dan kebun hortikultura, serta pengembangan kegiatan integrated farming yang mencakup kolam lele dan ayam kube.

“Kami ingin Lapas Perempuan Kelas IIB Kupang menjadi model contoh pertama bagi lapas perempuan di NTT yang menerapkan kolaborasi ini, mendukung tercapainya swasembada pangan di NTT, sesuai dengan Dasacita pertama yaitu dari ladang ke pasar, serta pilar kolaborasi untuk mewujudkan ketahanan pangan di NTT, khususnya di Kota Kupang,” tambah Kepala Dinas.

Kolaborasi lintas sektor ini juga melibatkan perwakilan dari SMJ, yang turut hadir dalam kegiatan ini sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan pertanian dan pemberdayaan warga binaan. Diharapkan, melalui kerja sama ini, warga binaan di Lapas Perempuan Kelas IIB Kupang dapat menjadi wirausahawan mandiri yang dapat meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi.

Similar Posts