Pemprov NTT Siapkan TTS Jadi Sentra Hortikultura dan Agroeduwisata Unggulan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mulai menyiapkan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai kawasan hortikultura dan agroeduwisata unggulan di NTT. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Joaz Billy Oemboe Wanda menyebut konsep itu seturut dengan keunggulan yang ada di Kabupaten TTS.
Menurut Joaz, wilayah TTS memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat hortikultura karena didukung iklim pegunungan, kawasan wisata, serta berbagai komoditas unggulan seperti jeruk, mangga, durian, rambutan hingga tanaman biofarmaka.
“Kalau ini ditata dengan baik, TTS ini bisa seperti Bogor. Orang dari kota bisa datang untuk wisata sekaligus belajar pertanian,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, Balai Benih Hortikultura Oelubuk di TTS saat ini menjadi salah satu pusat pengembangan benih hortikultura milik Pemprov NTT yang berfungsi menyiapkan bibit bagi kebutuhan petani.
Selain di TTS, menurut Joaz, Pemprov juga memiliki kawasan serupa di Flores, Sumba, Alor hingga Rote. Balai benih seluas 3,5 hektare tersebut kini tidak hanya dikembangkan sebagai pusat produksi benih, tetapi juga diarahkan menjadi kawasan agroeduwisata dan pusat pembelajaran pertanian.
“Kita ingin menjadikan tempat ini sebagai agroeduwisata. Pertaniannya dapat, wisatanya dapat, edukasinya juga dapat,” katanya.
Menurut Joaz, konsep pengembangan kawasan itu sebenarnya sudah dirancang sejak beberapa tahun lalu, termasuk desain wisata pertanian, rest area, taman tanaman hias hingga wahana pendukung wisata. Namun keterbatasan anggaran membuat sejumlah rencana belum dapat direalisasikan.
“Kami dulu bahkan sudah desain sampai flying fox. Tetapi karena keterbatasan anggaran, belum bisa dijalankan,” ujarnya.
Selain menjadi destinasi wisata pertanian, ujar dia, kawasan tersebut juga dipersiapkan sebagai tempat penelitian dan pembelajaran melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai pihak dalam konsep pentahelix.
Pemprov NTT telah menjajaki kerja sama dengan Universitas Nusa Cendana untuk pengembangan kawasan tersebut.
Joaz mengakui, pengelolaan balai benih masih menghadapi berbagai kendala, terutama minimnya sumber daya manusia dan dukungan anggaran. Saat ini hanya enam pegawai yang menangani kawasan balai benih seluas 3,5 hektare tersebut.
“Memang masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Kita juga dua tahun terakhir tidak lagi mendapat dukungan dana pusat untuk pengembangan dan perbanyakan benih,” katanya.
Meski demikian, menurut dia, Pemprov NTT tetap berupaya mencari dukungan dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun kerja sama dengan pihak ketiga.
Joaz mengatakan, kawasan Fatumnasi dan sekitarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sentra hortikultura sekaligus destinasi wisata pegunungan di NTT.
Bahkan, Pemprov NTT tengah mendorong pengembangan kawasan sentra jeruk dari jalur Amfoang, TTS, TTU hingga Belu sebagai kekuatan hortikultura wilayah perbatasan.
“Jeruk SoE ini salah satu komoditas unggulan dan endemik yang harus kita jaga. Kalau ditata serius, kawasan ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.
Sumber : Pemprov NTT Siapkan TTS Jadi Sentra Hortikultura dan Agroeduwisata Unggulan – Pos-kupang.com
