Produktivitas Sorgum Bio Guma 3: Hasil 2,5 Ton per Hektar di Poktan Waring Woja, TTS

Produktivitas sorgum Bio Guma 3 di Kelompok Tani Waring Woja menjadi capaian penting bagi pertanian lahan kering. Kelompok tani ini berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan atau TTS, Nusa Tenggara Timur. Dari hasil pertanaman, sorgum varietas Bio Guma 3 menghasilkan produktivitas 2,5 ton per hektare. Hasil ini menunjukkan bahwa sorgum layak dikembangkan sebagai pangan alternatif berbasis potensi daerah.
Sorgum memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi kering dan curah hujan terbatas. Karakter tersebut sesuai dengan banyak wilayah pertanian di TTS. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pangan, pakan ternak, dan bahan baku olahan. Karena itu, pengembangan benih sorgum bermutu perlu terus diperkuat di tingkat petani.
Varietas Bio Guma 3 menjadi salah satu pilihan dalam pengembangan sorgum di lahan kering. Potensi hasilnya dapat terlihat ketika budidaya dilakukan secara tepat dan terarah. Capaian 2,5 ton per hektare di Waring Woja menjadi dasar evaluasi lapang. Data ini juga dapat menjadi rujukan untuk perbaikan musim tanam berikutnya.
Produktivitas tanaman tidak hanya ditentukan oleh varietas yang digunakan petani. Faktor pengolahan lahan, jarak tanam, pemupukan, dan pengendalian hama juga berpengaruh besar. Jika seluruh tahapan budidaya diperbaiki, hasil sorgum masih berpeluang meningkat. Pendampingan teknis perlu dilakukan agar petani menerapkan budidaya secara lebih konsisten.
Kelompok Tani Waring Woja memiliki peran strategis dalam memperkenalkan sorgum kepada petani sekitar. Melalui kegiatan pertanaman ini, petani dapat melihat langsung pertumbuhan dan hasil panen. Pengalaman lapang tersebut dapat meningkatkan minat petani terhadap sorgum. Komoditas ini juga memberi peluang ekonomi melalui pengolahan pangan lokal.
Hasil produktivitas 2,5 ton per hektare menjadi indikator awal yang positif bagi pengembangan sorgum di TTS. Catatan hasil ini menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok tani, penyuluh, dan pelaku usaha benih setempat. Dengan benih bermutu dan budidaya tepat, sorgum dapat memperkuat ketahanan pangan lokal. Pengembangan ini juga mendukung diversifikasi pangan yang sesuai dengan kondisi wilayah kering.
