Uji Kerapatan Spora dan Viabilitas Trichoderma Hasil Eksplorasi dari Perakaran Tanaman Kopi di Kabupaten Alor

Potensi pemanfaatan APH Trichoderma spesifik dari lokasi eksplorasi di Kabupaten Alor adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas tanaman kopi. Dengan kerapatan spora dan viabilitas yang tinggi, Trichoderma lokal dari Kabupaten Alor dapat diaplikasikan secara lokal dalam upaya pengendalian hayati terhadap patogen dan peningkatan pertumbuhan tanaman kopi.

Selain itu, Trichoderma yang spesifik terhadap lingkungan lokal dapat memiliki adaptasi yang lebih baik terhadap kondisi edafik dan iklim di Kabupaten Alor, sehingga meningkatkan kemampuan organisme untuk menyebar, bertahan, dan memberikan manfaat yang lebih efektif kepada tanaman kopi di daerah tersebut.

Kerapatan Spora 11×10^7:

Kerapatan spora sebanyak 11×10^7 mengindikasikan jumlah spora Trichoderma dalam satu unit volume tertentu dari sampel perakaran kopi di Kabupaten Alor. Jumlah ini menunjukkan keberagaman dan kelimpahan Trichoderma dalam ekosistem perakaran tanaman kopi.

Viabilitas 97,36%:

Viabilitas sebesar 97,36% menunjukkan bahwa sebagian besar spora Trichoderma dari sampel tersebut masih hidup dan dapat berkembang biak. Persentase viabilitas yang tinggi mencerminkan kesehatan mikroorganisme dan potensinya dalam aplikasi sebagai agens pengendali hayati.

Trichoderma hasil eksplorasi, terutama jenis Trichoderma lokal yang ditemukan di sekitar perakaran tanaman kopi di Kabupaten Alor, memiliki potensi dan manfaat yang penting dalam konteks pertanian. Berikut adalah beberapa manfaat Trichoderma lokal dan potensi pemanfaatannya:

  • Biocontrol agent (Agen Pengendalian Hayati): Trichoderma lokal sering digunakan sebagai agen pengendalian hayati untuk melawan patogen tanaman seperti jamur penyebab penyakit tanaman. Trichoderma menghasilkan enzim dan senyawa antimikroba yang efektif dalam menekan pertumbuhan dan aktivitas patogen, sehingga membantu melindungi tanaman kopi dari infeksi penyakit.
  • Peningkatan kekebalan tanaman: Trichoderma meningkatkan resistensi tanaman terhadap serangan patogen dengan merangsang sistem pertahanan tanaman. Trichoderma dapat mengaktifkan gen tertentu dalam tanaman yang berperan dalam respons terhadap patogen, sehingga meningkatkan ketahanan tanaman kopi terhadap penyakit.
  • Mendukung Pertumbuhan dan Kesehatan Tanaman: Trichoderma dapat mempromosikan pertumbuhan dan kesehatan tanaman kopi karena kemampuannya untuk menghasilkan senyawa pertumbuhan, seperti asam indolasetat (IAA), yang mempengaruhi pertumbuhan akar dan mendorong pemulihan tanaman setelah stres lingkungan.
  • Solubilisasi Fosfat: Trichoderma memiliki kemampuan untuk melarutkan fosfat tanah yang tidak tersedia bagi tanaman menjadi bentuk yang dapat diserap oleh tanaman. Ini membantu dalam meningkatkan ketersediaan fosfat untuk tanaman kopi, yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  • Dekomposisi Bahan Organik: Trichoderma juga berperan dalam proses dekomposisi bahan organik di tanah, mempercepat siklus nutrisi dan merangsang aktivitas mikroba pengurai. Hal ini penting dalam menjaga keseimbangan nutrisi dan kualitas tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman kopi.

Similar Posts

  • Tinjau Bendungan Raknamo, Gubernur NTT Dukung Swasembada Pangan di Kabupaten Kupang

    Usai melakukan kunjungan kerja (kunker) di Kabupaten TTU dan Kabupaten TTS, Gubernur NTT bersama rombongan melanjutkan agenda di Kabupaten Kupang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/3/2025) malam.

    Kunker di Kabupaten Kupang ini, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena meninjau Bendungan Raknamo yang terletak di Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto.

  • Wagub NTT Serahkan Bibit Padi Dukung Swasembada Pangan

    Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat sektor pertanian guna mendukung program swasembada pangan nasional. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui penyerahan bantuan bibit padi kepada kelompok tani di Desa Manusak.

    Wakil Gubernur NTT, Jhoni Asadoma, secara langsung menyerahkan bibit padi kepada para petani sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, Jhoni Asadoma menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

    Menurutnya, NTT memiliki potensi lahan pertanian yang luas dan produktif, sehingga perlu dioptimalkan melalui dukungan sarana produksi yang memadai, termasuk penyediaan bibit unggul. “Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi padi di tingkat petani serta mendorong tercapainya swasembada pangan di daerah,” ucap WAGUB Jhoni Asadoma kepada RRI.CO.ID, Senin, 17 Februari 2026.

    Wagub juga mengingatkan pentingnya peran kelompok tani dalam menjaga kualitas tanam dan meningkatkan pola kerja sama. Pemerintah daerah, lanjutnya, akan terus memberikan pendampingan melalui penyuluh pertanian serta memastikan dukungan program berjalan berkelanjutan.

    Perwakilan kelompok tani Desa Manusak menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah provinsi terhadap kebutuhan petani. Mereka berharap bantuan bibit padi ini mampu meningkatkan hasil panen pada musim tanam mendatang, sekaligus membantu meningkatkan pendapatan petani.

    Program penyerahan bibit padi ini menjadi salah satu langkah konkret Pemprov NTT dalam memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung kebijakan nasional menuju kemandirian pangan.

  • Pakar Pangan Unibraw Sebut Produksi Beras RI Tertinggi dalam Sejarah, Stok Melimpah

    Pakar pangan dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Sujarwo, mengungkapkan bahwa periode April hingga Mei merupakan puncak produksi pangan nasional, di mana suplai beras dalam negeri mencapai titik tertingginya. Kondisi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mencatat surplus beras yang dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk stok nasional, tetapi juga untuk ekspor.

    Mengacu pada Rice Outlook edisi April 2025 yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi beras Indonesia tahun ini diperkirakan menembus 34,6 juta ton—naik 600 ribu ton dibandingkan proyeksi tahun sebelumnya. “Produksi beras Indonesia saat ini menunjukkan tren positif dan bahkan lebih baik dibandingkan negara-negara besar di ASEAN seperti Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, maupun Laos,” ujar Sujarwo, Minggu (11/5/2025).

  • Prabowo dan Revolusi Pangan: Dari Sawah ke Panggung Dunia

    Presiden Prabowo Subianto menunjukkan tekad luar biasa untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dan mewujudkan swasembada beras yang berkelanjutan. Dalam pidato perdananya sebagai Presiden Republik Indonesia, ia menegaskan bahwa kemandirian pangan dan energi adalah kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

    Semangat dan Visi Prabowo

    Presiden Prabowo menekankan beberapa poin penting:

    Mewujudkan bangsa yang mandiri dan tidak bergantung pada impor pangan.

    Meningkatkan produksi pertanian nasional agar Indonesia dapat menjadi penopang ketahanan pangan dunia.

    Berbagi hasil produksi kepada negara lain sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab global.

    Membangun infrastruktur pendukung pertanian — seperti gudang, sistem pendingin hasil panen, dan jalur distribusi di tiap desa — untuk menjamin efisiensi dan mutu hasil tani.

    Mengajak seluruh elemen bangsa bekerja keras dan bergotong royong, bukan sekadar mengeluh atau bergantung pada bantuan luar negeri.

  • Pemkab Kupang Mengambil Langkah Antisipasi Menghadapi Anomali Iklim di Musim Tanam

    Pemerintah Kabupaten Kupang telah mengambil langkah-langkah antisipatif guna menghadapi dampak anomali iklim terhadap musim tanam petani tahun ini. Persiapan tersebut bertujuan memastikan kegiatan pertanian berjalan optimal serta produktivitas tetap terjaga meskipun pola hujan mengalami perubahan yang tidak menentu.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Juariah, STP, M.M., menyatakan bahwa pihaknya secara aktif mendorong petani untuk segera menyiapkan lahan dengan memanfaatkan curah hujan yang mulai turun. “Persiapan yang meliputi ketersediaan benih dan pupuk sudah terdistribusi. Selain itu, pendampingan teknis kepada petani oleh penyuluh pertanian di sejumlah kecamatan juga telah dilakukan. Untuk musim tanam pertama ini, luas tanam sudah mencapai sekitar seribu tiga ratus hektare,” ujarnya pada wawancara dengan RRI Kupang, Jumat, 23 Januari 2026.