Wawancara TVRI NTT dengan Kepala Dinas Pertanian NTT: Capaian dan Tantangan Swasembada Pangan Tahun 2025-2026

Dalam wawancara yang digelar oleh TVRI NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, mengungkapkan berbagai pencapaian, tantangan, serta strategi terkait upaya swasembada pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembicaraan ini menyentuh capaian sektor pertanian, kebijakan yang sudah diterapkan, serta langkah-langkah yang diambil untuk mendukung ketahanan pangan, dengan fokus pada target-target tahun 2025 dan 2026.

Joaz Bily Oemboe Wanda memaparkan bahwa pada tahun 2025, produksi padi di NTT mengalami peningkatan signifikan. Luas tanam padi tercatat mencapai 250.528 hektar, yang merupakan 96,11% dari target 260.670 hektar yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 8,97% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 229.029 hektar. Selain itu, produksi beras Provinsi NTT pada tahun 2025 mencapai 561.267 ton, meningkat 35,38% dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang hanya sebesar 414.576 ton. Pencapaian ini mengukuhkan kontribusi NTT dalam mendukung swasembada pangan nasional.

Pada pencapaian luar biasa tersebut, Provinsi NTT mendapatkan Penghargaan Swasembada Pangan Pin Emas dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan pada 13 Januari 2026 di Jakarta sebagai pengakuan atas kontribusi besar NTT dalam meningkatkan produksi beras yang turut berkontribusi terhadap keberhasilan pencapaian program swasembada pangan Indonesia. Penghargaan ini menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi dan kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam sektor pertanian di NTT.

Dalam wawancara tersebut, Joaz juga membahas mengenai penyerapan gabah dan beras petani oleh BULOG. Pada tahun 2025, BULOG NTT berhasil menyerap 6.025 ton beras yang setara dengan 97,05% dari target yang ditetapkan oleh pusat sebesar 6.240 ton. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, mengingat pada tahun 2024, penyerapan beras BULOG NTT hanya sebesar 384,8 ton. Penyerapan yang tinggi ini tak lepas dari kebijakan harga gabah kering panen yang dibeli oleh BULOG seharga Rp 6.500 per kg dan beras seharga Rp 12.000 per kg, yang memberikan insentif lebih besar kepada petani.

Namun, meskipun capaian yang telah diraih cukup menggembirakan, Joaz juga mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi dalam pencapaian swasembada pangan. Salah satu tantangan utama adalah kondisi iklim kering yang berpengaruh pada produktivitas pertanian di NTT, mengingat sebagian besar sawah di provinsi ini merupakan sawah tadah hujan. Dengan 176.693 hektar luas baku sawah (LBS), sekitar 61,73% atau 109.078 hektar adalah sawah tadah hujan yang hanya bisa ditanami sekali dalam setahun, sehingga mempengaruhi luas tanam dan indeks pertanaman.

Keterbatasan dalam benih unggul dan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pertanian juga menjadi kendala yang harus diatasi. Sebagian besar petani di NTT masih menggunakan benih lokal berumur panjang yang memiliki produktivitas rendah, sekitar 2-3 ton per hektar, sementara benih unggul yang digunakan di daerah lain bisa mencapai 5-6 ton per hektar.

Untuk mengatasi tantangan ini, Joaz menyatakan bahwa pemerintah telah mengambil sejumlah langkah strategis yang berfokus pada peningkatan produktivitas dan aksesibilitas petani terhadap teknologi pertanian. Salah satu strategi yang akan diterapkan untuk mencapai target produksi padi pada tahun 2026 adalah intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Intensifikasi akan dilakukan melalui berbagai upaya, seperti pompanisasi untuk meningkatkan indeks pertanaman dari 1-2 kali tanam menjadi 3-4 kali tanam dengan bantuan pompa air, irigasi perpompaan, dan irigasi perpipaan. Selain itu, ada juga program tumpang sisip (Tusip) di lahan perkebunan, yang memungkinkan pemanfaatan lahan secara lebih optimal.

Sementara itu, dalam rangka ekstensifikasi, program-program yang diterapkan antara lain percetakan sawah rakyat (CSR) dan optimasi lahan non-rawa yang ditargetkan untuk menambah luas area tanam guna meningkatkan produksi padi. Joaz menambahkan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga mendukung penyediaan benih unggul yang berumur genjah, serta pupuk subsidi yang diharapkan dapat mengurangi beban petani.

Target tahun 2026 untuk luas tanam padi di NTT adalah 273.800 hektar, dengan target produksi padi sebesar 1.184.540 ton GKG, yang setara dengan 693.785 ton beras. Dengan angka konsumsi beras yang diperkirakan berkisar antara 600.000 hingga 650.000 ton per tahun, pencapaian ini akan memastikan NTT tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dan turut mendukung swasembada pangan nasional.

Joaz juga menjelaskan bahwa selain intensifikasi dan ekstensifikasi, salah satu strategi utama untuk mencapai target tersebut adalah diversifikasi pangan, yang mencakup pengembangan komoditas pangan selain padi untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis tanaman pangan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pangan yang lebih beragam dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.

Selain itu, penurunan harga pupuk bersubsidi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebesar 20% mulai Oktober 2025 akan meringankan beban petani. Harga pupuk Urea misalnya, kini turun menjadi Rp 1.800 per kg, sementara NPK turun menjadi Rp 1.840 per kg.

Kolaborasi pentahelix menjadi kunci utama dalam mewujudkan swasembada pangan di NTT. Joaz menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media untuk mendukung pencapaian target produksi pangan yang lebih tinggi. Kolaborasi ini melibatkan penyiapan regulasi dan kebijakan anggaran dari pemerintah, penelitian dan inovasi dari akademisi, serta hilirisasi produk pertanian dan pemasaran dari pelaku usaha.

Dengan strategi-strategi yang telah disusun, NTT optimis dapat mencapai swasembada pangan pada 2026 dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Similar Posts