Optimalisasi Alsintan dan Penangkaran Benih di Sumba Timur: Gubernur Tekankan Pengelolaan Kolektif

Waingapu, Sumba Timur 16 September 2025 – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terus memperkuat program ketahanan pangan melalui optimalisasi alat mesin pertanian (alsintan) dan penangkaran benih padi. Hal ini ditegaskan dalam kunjungan kerja Gubernur NTT di Desa Mauliru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur.

Profil Pertanian Desa Mauliru

Berdasarkan data yang dipaparkan, Desa Mauliru memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian, khususnya padi sawah:

  • Jumlah Kelompok Tani: 55 poktan
  • Luas Lahan Irigasi Potensial: 513 ha
  • Luas Lahan Irigasi Fungsional: 325 ha
  • Luas Lahan Kering: 144 ha
  • Rata-rata Produksi: 8 ton/ha
  • Indeks Pertanaman (IP): 3 kali tanam dalam setahun

Salah satu kelompok tani, Namatu Mahamu dengan ketua Ignasius Landu Praing, mengelola lahan seluas 15 ha dengan varietas padi Inpari 43. Pada musim panen ini, kelompok tersebut menggarap 40 are dengan hasil produksi 3,36 ton/are.

Brigade Kabupaten untuk Efisiensi Alsintan

Kepala Dinas Pertanian menjelaskan bahwa ke depan pemerintah akan menyiapkan sistem brigade kabupaten untuk pengelolaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Skema ini bertujuan agar alsintan tidak lagi dimiliki secara terpisah oleh kelompok kecil, mengingat biaya pengadaan dan perawatan yang sangat besar.

“Alsintan bernilai ratusan juta rupiah. Jika semua kelompok memiliki sendiri, alat sering menumpuk dan tidak terawat. Dengan brigade kabupaten, peralatan bisa digunakan bersama, biaya lebih efisien, dan perbaikan bisa dilakukan di daerah, tanpa harus ke Jawa,” ungkapnya.

Sumba Timur telah melakukan ekspor beras 150 ton, dan dari sumba barat 250 ton ke TTU melalui bulog.

Selain itu , pemerintah mendorong skema taksi alsintan yang dapat mempermudah pemanfaatan peralatan oleh kelompok tani secara terjadwal dan terkontrol.

Kepala Dinas Pertanian NTT menyampaikan bahwa kelompok tani di diklasifikasikan dalam empat kategori: Pemula, Lanjut, Madya, Utama

Kelompok tani pada level madya dan utama akan didorong masuk ke dalam skema pembiayaan melalui perbankan. Selain memberi akses modal usaha, skema ini juga melatih literasi keuangan petani, khususnya petani milenial.

“Kami sudah berbicara dengan pihak perbankan. Formulanya sedang kami siapkan bersama Dirjen Pembiayaan di pusat. Namun tentu tidak semua kelompok akan masuk; hanya kelompok tani terbaik atau champions yang akan dijadikan model,” jelas Kadis Pertanian.

Harapan Petani: Benih Unggul dan Pengelolaan Kolektif

Perwakilan kelompok tani menyampaikan aspirasi terkait kendala di lapangan. Salah satu masalah utama adalah keterbatasan benih unggul dan tingginya biaya operasional.

“Kami berharap program penangkaran benih insitu segera direalisasikan di Sumba Timur, supaya kami tidak lagi bergantung pada pasokan dari Bali, Jawa, atau Sumatera. Dengan kondisi tanah yang baik, hasil produksi bisa ditingkatkan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang datang ke Sumba Timur,” ujar salah seorang perwakilan petani.

Mereka juga menyetujui sistem pengelolaan alsintan secara kolektif, agar peralatan tidak menumpuk dan rusak, seperti yang terjadi di beberapa wilayah lain.

Arahan Gubernur: Eksekusi Cepat dan Pola Pikir Baru

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTT menegaskan pentingnya kolaborasi serta perubahan pola pikir dalam mengelola bantuan pertanian.

Ia menyampaikan bahwa lahan di Sumba Timur termasuk salah satu yang terbaik di NTT, bahkan bisa menghasilkan panen hingga empat kali setahun jika dikelola dengan baik. Karena itu, ia meminta agar seluruh program segera dieksekusi dan tidak ditunda.

“Kita jangan lagi berpikir bahwa alsintan adalah milik pribadi atau kelompok kecil. Mari gunakan sistem brigade kabupaten, supaya peralatan bisa dipakai bersama sesuai kebutuhan. Alsintan itu seperti kendaraan bermotor, kalau tidak dipakai dan tidak dirawat, pasti rusak,” tegas Gubernur.

Selain itu, Gubernur juga mendorong realisasi penangkaran benih lokal. Dengan kebutuhan benih mencapai 6–7 ton per musim tanam, kemandirian benih akan sangat menentukan keberhasilan program ketahanan pangan.

Komitmen Bersama

Kegiatan ini menegaskan komitmen pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan di Sumba Timur. Melalui kolaborasi, optimalisasi alsintan, dan penangkaran benih unggul, diharapkan kesejahteraan petani dapat meningkat serta Sumba Timur semakin siap menjadi lumbung pangan di NTT.

Similar Posts

  • Percepat Luas Tambah Tanam Padi di NTT: Program Penanaman Padi di Manggarai Timur dan Belu

    Kegiatan penanaman padi di Desa Tengku Leda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, serta di Desa Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, merupakan bagian dari upaya strategis Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam mendorong percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan peningkatan produksi padi. Melalui inisiatif ini, diharapkan dapat tercapai ketahanan pangan yang lebih baik serta peningkatan kesejahteraan petani di daerah tersebut.

    Kegiatan penanaman padi ini dilaksanakan dengan melibatkan petani setempat yang didampingi secara aktif oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pendampingan ini sangat penting untuk memastikan bahwa teknik budidaya yang diterapkan sudah tepat, efisien, dan sesuai dengan kondisi agroklimat lokal. Penerapan teknologi dan metode pertanian yang tepat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi serta meminimalkan risiko kegagalan tanam yang sering kali terjadi akibat faktor cuaca atau kurangnya pengetahuan teknis.

    Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang ada, sehingga dapat mendukung program ketahanan pangan dan swasembada pangan di Provinsi NTT. Dengan penguatan peran Penyuluh Pertanian Lapangan dan kolaborasi yang baik antara petani dan pemerintah daerah, sektor pertanian di NTT diharapkan dapat berkembang lebih pesat, menghasilkan produk pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan taraf hidup para petani lokal.

  • Gubernur NTT Hadiri Panen Simbolis Jagung Tematik Desa BUMDES “Tafena Kuan” Desa Panite Kecamatan Kot’olin di Kabupaten TTS

    Gubernur Nusa Tenggara Timur menghadiri panen simbolis jagung tematik desa yang dikelola oleh BUMDes “Tafena Kuan” di Desa Panite, Kecamatan Kot’olin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sabtu 30 Agustus 2025. Kegiatan ini juga dihadiri Bupati TTS Eduard M. Lioe bersama jajaran pemerintah kabupaten, Forkopimda, Kepala Desa Panite, serta sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT.

    Panen jagung tematik desa menjadi wujud nyata peran BUMDes dalam mengelola potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya hilirisasi jagung diarahkan sejalan dengan program One Village One Product (OVOP) dan gerakan “Beli NTT”, sehingga mampu memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat kemandirian pangan berbasis pertanian berkelanjutan di NTT.

  • Prabowo Teken 4 Aturan Baru untuk Kejar Swasembada Pangan

    JAKARTA, investor.id – Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah menandatangani empat aturan baru menyangkut sistem irigasi hingga pupuk. Aturan tersebut disebut akan menjadi bagian penting untuk Indonesia segera mencapai swasembada pangan.

    Kabar itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) usai memimpin rapat koordinasi di kantor Kemenko pangan dengan melibatkan kementerian dan lembaga negara terkait pada Jumat (31/1/2025).

    Dia mengungkapkan sejumlah aturan yang dimaksud ditetapkan untuk mengejar target swasembada pangan secepat-cepatnya. “Kami sangat gembira hari ini Pak Mensesneg membawa kabar yang sangat penting, yang sudah kita tunggu-tunggu lama,” ujar Zulhas saat jumpa pers.

  • Meningkatkan Keamanan Pangan Segar melalui Program PAS AMAN di NTT

    Badan Pangan Nasional mengalokasikan kegiatan PAS AMAN untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun anggaran 2024. Program ini berlangsung di Pasar Oebobo, Kota Kupang, sebagai salah satu langkah konkret dalam meningkatkan keamanan pangan segar bagi masyarakat.

    Inisiatif ini mencerminkan perhatian khusus dari  Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P, yang saat ini menjabat sebagai Penjabat Gubernur NTT sekaligus Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan di Badan Pangan Nasional. Program ini bertujuan untuk mengatasi berbagai persoalan mendesak di NTT, seperti kemiskinan, kemiskinan ekstrem, dan stunting, yang erat kaitannya dengan konsumsi pangan segar yang aman dan bergizi.

  • Gotong Royong Satgas TMMD Kodim 1612/Manggarai Pasang Telfor di Desa Rado

    Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1612/Manggarai melaksanakan kegiatan pemasangan telfor di Desa Rado, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/10/2025).

    Pemasangan telfor ini dilakukan untuk memperlancar distribusi material bangunan ke lokasi sasaran fisik TMMD yang sulit dijangkau kendaraan. Medan terjal dan berbukit di Desa Rado menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan program TMMD, sehingga penggunaan telfor menjadi solusi efisien dan tepat guna.

    Kegiatan tersebut dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota TNI bersama masyarakat setempat, mencerminkan semangat kebersamaan dan kemanunggalan TNI dengan rakyat.