Pengendalian Hama Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda) di Desa Barene: Kolaborasi Efektif POPT, PPL, dan Poktan

Pengendalian Hama Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda) di Desa Barene Kolaborasi Efektif POPT, PPL, dan Poktan

Pada tanggal 4 Februari 2026, di Desa Barene, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, tim Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) melakukan pengamatan dan pengendalian hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda), yang merupakan ancaman serius bagi sektor pertanian lokal. Kegiatan ini melibatkan sinergi yang erat antara POPT, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan Ketua Kelompok Tani (Poktan) setempat.

Mengenal Hama Ulat Grayak

Hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda) adalah serangga dari famili Noctuidae yang sering kali menyerang tanaman jagung, namun juga dapat merusak tanaman lainnya. Ulat ini sangat destruktif, terutama pada fase pertumbuhan tanaman muda, dengan cara memakan daun tanaman dan menyebabkan kerusakan yang signifikan. Dalam kondisi serangan yang parah, hasil panen dapat menurun drastis, bahkan mencapai 80%.

Ulat grayak dapat berkembang biak dengan sangat cepat dan menyebar ke area yang lebih luas dalam waktu singkat, yang menjadikannya salah satu hama paling merusak di bidang pertanian. Oleh karena itu, pengendalian yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kerugian lebih lanjut.

Pengendalian dengan Insektisida Emamektin Benzoat

Untuk mengatasi ancaman hama ulat grayak, POPT bekerja sama dengan PPL dan Ketua Poktan setempat menggunakan insektisida berbahan aktif Emamektin Benzoat. Insektisida ini dikenal efektif dalam mengendalikan ulat grayak karena bekerja dengan cara mengganggu sistem saraf serangga, menyebabkan kelumpuhan dan kematian pada hama tersebut.

Insektisida yang digunakan dalam kegiatan ini adalah merk dagang SIKLON, yang diberikan sebagai bantuan oleh UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPHP) Provinsi NTT. SIKLON mengandung Emamektin Benzoat yang memiliki keunggulan dalam hal daya tahan yang lama serta efektivitas tinggi dalam mengatasi hama ulat grayak. Penggunaan insektisida ini memberikan solusi yang tepat dan aman bagi petani, dengan meminimalkan risiko kerusakan pada tanaman mereka.

Pendekatan Terpadu dalam Pengendalian Hama

Selain penggunaan insektisida, pengendalian hama ulat grayak dilakukan dengan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai teknik. PPL berperan penting dalam memberikan pelatihan kepada petani tentang cara-cara pencegahan yang efektif. Salah satunya adalah pemantauan tanaman secara rutin untuk deteksi dini hama, serta penggunaan teknik rotasi tanaman untuk mengurangi peluang berkembang biaknya hama ulat grayak.

Ketua Poktan setempat juga menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan di desa mereka. “Dengan adanya bantuan insektisida yang efektif dan bimbingan dari PPL, kami bisa lebih siap dalam menghadapi ancaman hama yang dapat merusak hasil pertanian kami,” ujarnya.

Peran POPT, PPL, dan Poktan dalam Ketahanan Pangan

Kegiatan pengendalian hama ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah ini. Kolaborasi yang erat antara POPT, PPL, dan Poktan adalah kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan para petani.

Melalui tindakan pengendalian yang tepat, para petani di Kabupaten Malaka diharapkan dapat mengurangi kerugian akibat serangan hama ulat grayak, dan melanjutkan produksi pertanian yang berkelanjutan. UPTD Proteksi TPHP Provinsi NTT akan terus memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk memastikan bahwa sektor pertanian di NTT tetap tumbuh dan berkembang, sehingga ketahanan pangan masyarakat dapat terjaga dengan baik.

Similar Posts