Skip to content
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
  • Beranda
  • ProfilExpand
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan PublikasiExpand
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • KaleidoskopExpand
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data ProduksiExpand
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • LayananExpand
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan

May 17, 2026May 19, 2026 Artikel

Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan  berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi.

Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kelompok beranggotakan 10 orang ini merupakan dampingan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan Amati Indonesia.

Yayasan ini banyak mengajari mereka bagaimana mengolah kebun pangan secara organik. “Kami mulai menanam aneka sayuran ini di akhir tahun 2025 lalu,” kata Monika Udis, Ketua Kelompok Perempuan Wela Nara, Jumat (8/5/26).

Ada sawi, tomat dan kacang panjang siap panen. Ada juga tanaman wortel, kangkung dan juga pakcoy. Mereka mengatur masa tanam agar pemanenan bisa berlangsung tiap hari.

Untuk pengairan, ibu-ibu ini mengambilnya dari mata air Wae Betong di dalam kawasan hutan yang mereka salurkan menggunakan bambu. Kebetulan, lokasi kebun berbatasan langsung dengan hutan Mbeliling.

Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung seluas 72, 4 kilometer persegi dan hutan konservasi  41, 8 kilometer persegi. Mata air dari kawasan hutan ini tak pernah kering meski di musim kemarau.

Dengan siklus panen 3-4 bulan, kebun ini sudah 12 kali panen. Sebagian mereka jual, sebagian  untuk bagi-bagi  ke setiap anggota. “Hasil penjualan sudah terkumpul Rp6.000.000. Uangnya akan kami gunakan untuk membeli bibit tanaman lagi,” sebut Monika.

Kelompok Kebun Mama Teka Iku,Kabupaten Sikka sedang panen kacang tanah di kebun pangan kelompok yang berada di dekat kawasan hutan desa.

Pupuk organik

Vitrudis Eldis Sanakoe, anggota Kelompok Wela Nara katakan,  menggunakan pupuk organik pestisida nabati. Pupuk organik dia peroleh dari sekam bakar dan jerami padi yang dia campur dengan kotoran ternak.

Sedangkan pestisida dia dapat dari daun pepaya yang dihaluskan dan dicampur dengan air. Ada juga bawang merah yang dihaluskan dan dicampur air. “Kami konsisten gunakan pupuk dan pestisida organik sebab ramah lingkungan. Produknya pun lebih sehat untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Selain Watu Galang, Kabupaten Manggarai, praktik untuk membuat kebun pangan juga dilakukan ibu-ibu di Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Flores. Di lahan berpasir seluas 0,5 hektar, mereka menanam aneka tanaman hortikultura.Ada lombok, tomat, sawi, kangkung, wortel, terong, pare dan kacang panjang. Ada juga pepaya, kacang tanah, seledri, ubi jalar, keladi, singkong, jagung, sorgum serta rosela.

“Kami tanam 18 Desember 2025 panen 10 Maret 2026. Hasil panen kami bagi kepada 15 anggota kelompok dan sisanya dijual. Uang kas sudah ada Rp400.000,” sebut Katarina Dalince, Ketua Kelompok Kebun Mama Teka Iku, Senin (11/5/26).

Maria Rudiah, anggota kelompok ini mengaku sempat mendapatkan pelatihan selama seminggu dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari terkait pembuatan kompos dan dan fermentasi pakan ayam. Hanya, tantangannya ada pada lokasi lahan yang berada di lereng dengan kemiringan 30 derajat.

Untuk menyiasatinya, mereka membuat pola terasering dengan bambu sebagai penahan. Selain itu, lahan juga berbatasan dengan kebun warga dan hutan. Terdapat pepohonan asam, jambu mete dan kelapa. Kondisi ini membuat tanaman rentan terserang hama. “Serangan hama sangat masif sementara kami hanya menggunakan pestisida organik. Kami sedang cari cara untuk bisa mengatasi serangan hama dan penyakit selain menanami bunga untuk menghalau serangga,” sebut Maria.

Kebun pangan kelompok Kebun Mama Teka Iku di Desa Teka Iku, Kabupaten Sikka yang ditanami aneka tanaman pangan termasuk pangan lokal.

Upaya konservasi

Desa Teka Iku merupakan salah satu desa di Kabupaten Sikka yang mendapatkan surat keputusan perhutanan sosial dengan skema hutan desa. SK terbit pada 3 Agustus 2022 dengan luas 84 hektar untuk 34 keluarga.

Katarina menyebut, pada 2021 Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari Bambu menanam 1.000 anakan bambu di areal sekitar mata air dan kebun warga dengan fasilitasi YBLL. Bambu menjadi salah satu hasil hutan yang bisa mendatangkan pendapatan dengan harga per batangnya Rp20.000-25.000.

Bambu juga bisa warga manfaatkan sebagai halar (bambu belah) untuk dinding rumah (gedek). Di kalangan warga, harga setiap 10 lembar gedek mencapai Rp40.000-Rp50.000.

Setiap sore anggota kelompok menyiram kebun pangan. Dalam seminggu setiap hari Kamis dan Sabtu semua anggota bekerja di kebun pangan sedangkan waktu lainnya mereka manfaatkan mengelola kebun di dalam kawasan hutan.

“Kebun di dalam hutan kami tanami cengkeh, kemiri, pala, kelapa dan alpukat.Kami juga telah mengolah produk minyak kemiri untuk dikemas dan dijual,” ucap Katarina.

Kendati budidaya hasil hutan cukup berhasil, Katrina mengaku masih membutuhkan dukungan untuk pemasaran. Terutama untuk produk minyak kemiri dan aneka hasil kebun lainnya. Selain itu, juga air untuk menyiram tanaman.

Maria katakan, selama ini, warga Desa Teka Iku kesulitan mendapatkan air bersih. Sementaraa ini, mereka andalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atau, membelinya dari mobil tangki seharga Rp250.000 untuk ukuran 5.000 liter.

Setiap rumah warga pasti memiliki tandon untuk menampung air hujan yang bisa mereka gunakan untuk dua minggu. “Kami menjual hasil kebun dari kawasan hutan dan bambu untuk bisa membeli air bersih. Kebun pangan juga kami pakai dari air yang kami beli,” ujar Maria.

Di tengah kebun pangan terdapat tandon yang terbuat dari fiber untuk menampung air. Setiap sore mama-mama menggunakan ember dan jeriken mengangkut air dari rumah untuk menyirami tanaman di kebun yang berada sekitar 300 meter dari perkampungan.

“Kami terus menanam bambu dan pepohonan lain di dalam kawasan hutan setiap musim hujan agar suatu saat bisa muncul mata air. Kami tidak ingin terus menerus membeli air bersih,” ungkap Katarina.

Hutan bambu yang berada di sekitar kawasan hutan desa dekat kebun pangan kelompok Kebun Mama Teka Iku, Desa Teka Iku, Kabupaten Sikka.

Olah lahan berkelanjutan

Kebun pangan merupakan kolaborasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Kehutanan, YBLL dan Amati Indonesia.

Kelompok perempuan di sekitar kawasan hutan diajari menanam tanaman pangan secara organik sebagai bagian dari upaya mendorong pemberdayaan perempuan melalui penguatan kedaulatan pangan dan ekonomi keluarga berbasis potensi lokal.

Veronika Tan, Wakil Menteri PPPA mengatakan, program ini tidak hanya menghidupkan kembali pengetahuan tradisional terhadap pangan lokal juga membuka peluang perempuan sebagai penggerak kesejahteraan keluarga dan desa.

“Ketika perempuan diberikan akses untuk mengelola lahan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh lingkungan dan generasi mendatang. Perhutanan sosial memberi ruang bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk mengelola sumber daya alam secara lestari dan produktif,” katanya.

Veronika berharap kebun pangan ini menjadi ruang bersama untuk belajar. Tak jarang, saat beraktivitas di kebun ini, para mama juga mengajak serta anak-anaknya.

Dia pun melihat praktik tersebut sebagai bagian dari  transformasi nilai bagaimana menjaga kedaulatan pangan, sekaligus melestarikan hutan.

“Selain menanam tanaman pangan, para mama-mama ini juga diajari menanam bambu untuk konservasi air. Bambu menyimpan karbon, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” sebut Monika Tahandaru, Chairperson YBLL.

Satu rumpun bambu menyimpan 3.900 liter air hanya dalam satu musim hujan. Makanya, dimana ada bambu maka disitu ada air. “Bambu bisa jadi sumber untuk timber, biochar atau arang. Limbah dari bambu bisa digunakan untuk pembangkit listrik biomassa dan kami tahun depan akan membangunnya.”

Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan
Kebun pangan kelompok perempuan Wela Nara, Desa Watu Galang yang berada di luar kawasan hutan lindung Mbeliling, Manggarai Barat, NTT.
  • Kelompok perempuan di Desa Watu Galang dan Desa Teka Iku, Nusa Tenggara Timur, mulai mengembangkan kebun pangan organik berbasis komunitas sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Dengan dukungan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan Amati Indonesia, para mama menanam berbagai hortikultura seperti sawi, tomat, kangkung, hingga sorgum menggunakan pupuk dan pestisida alami.
  • Praktik pertanian organik ini memanfaatkan sumber daya lokal dan dilakukan berdampingan dengan upaya konservasi hutan. Di Watu Galang, pengairan kebun berasal dari mata air di kawasan hutan Mbeliling yang dialirkan menggunakan bambu, sementara di Teka Iku warga terus menanam bambu dan pohon lain untuk menjaga cadangan air serta memulihkan lingkungan.
  • Selain menghasilkan sayuran untuk konsumsi keluarga, kebun pangan juga mulai memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok perempuan. Hasil panen dijual untuk membeli bibit baru dan mendukung kegiatan kelompok, sementara hasil hutan seperti bambu dan minyak kemiri menjadi sumber ekonomi alternatif bagi warga desa sekitar kawasan perhutanan sosial.
  • Meski demikian, para perempuan masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan air bersih, serangan hama, hingga akses pemasaran produk. Program kebun pangan ini dinilai penting tidak hanya untuk memperkuat ekonomi rumah tangga, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan perempuan, pendidikan lingkungan bagi anak-anak, serta upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat.

Post navigation

Previous Previous
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Hadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II di Tuatuka
NextContinue
Distan KP NTT Gelar Gerakan Pangan Murah di Oesapa Timur, Warga Antusias Berbelanja Kebutuhan Pokok
Logo Pemprov NTT
DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Email:
provnttdistankp@gmail.com

Social Media Link:
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • WhatsApp
  • TikTok
Map Embed
Tautan
  • Kementerian Pertanian
  • Badan Pusat Statistik
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Statistik

© 2026 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Scroll to top
  • Beranda
  • Profil
    • Tugas Pokok Fungsi
    • Selayang Pandang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Informasi dan Publikasi
    • Berita
    • Publikasi
    • Informasi
    • Kaleidoskop
      • Kegiatan 2023
      • Kegiatan 2024
      • Kegiatan 2025
      • Kegiatan 2026
    • Testimoni Petani NTT
    • Data Produksi
      • Tanaman Pangan (2018-2023)
      • Tanaman Hortikultura (2018-2024)
      • Tanaman Perkebunan (2018-2025)
    • Layanan
      • Layanan Sertifikat Benih
      • Layanan Sertifikat PSAT
      • Layanan Konsultasi WA
  • PPID
Search