OKKPD NTT Laksanakan Audit Lapang dan Pengambilan Sampel Beras Nona Rote di Gudang BULOG NTT

Kupang – 2 Agustus 2024, Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berkomitmen untuk menjamin keamanan pangan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan audit lapang dan pengambilan sampel beras Nona Rote di Gudang Beras BULOG NTT. Langkah ini merupakan bagian dari proses pemenuhan kesesuaian keamanan pangan sebelum penerbitan Sertifikat Penerapan Penanganan yang Baik (SPPB).

Audit lapang dan pengambilan sampel yang dilakukan OKKPD NTT adalah langkah penting dalam memastikan bahwa unit penanganan pangan segar asal tumbuhan (PSAT) menerapkan praktik-praktik yang baik sesuai dengan karakteristik produk. Beras Nona Rote, sebagai salah satu produk dari Bulog NTT , memerlukan perhatian khusus untuk memastikan bahwa setiap tahap penanganannya memenuhi standar keamanan pangan.

Proses audit lapang melibatkan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi gudang, praktik penyimpanan, serta pengelolaan beras Nona Rote di Gudang Beras BULOG NTT. OKKPD NTT melakukan pengujian terhadap sampel beras yang diambil untuk memastikan tidak adanya kontaminasi atau risiko lain yang dapat membahayakan konsumen. Pemeriksaan ini terkait penjaminan keamanan pangan dari beras tersebut.

Pelaksanaan audit dan pengambilan sampel ini juga merupakan salah satu langkah penting dalam rangka penjaminan keamanan pangan bagi masyarakat NTT. Dengan adanya pengawasan ketat dan penerapan standar yang baik, masyarakat dapat merasa lebih aman dan percaya bahwa beras Nona Rote yang mereka konsumsi telah memenuhi persyaratan keamanan pangan yang ditetapkan.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pangan segar dan mendukung kedaulatan pangan. Penerbitan SPPB bagi unit penanganan PSAT yang memenuhi standar menjadi salah satu bentuk perizinan berusaha yang memastikan bahwa produk yang beredar di pasaran aman untuk dikonsumsi.

OKKPD NTT berharap bahwa dengan adanya audit lapang dan pengambilan sampel yang rutin dilakukan, kualitas dan keamanan pangan di wilayah NTT dapat terus terjaga. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kepatuhan para pelaku usaha pangan terhadap standar keamanan pangan yang berlaku.

Sebagai bagian dari komitmen untuk terus meningkatkan pelayanan dan penjaminan keamanan pangan, OKKPD NTT akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh unit penanganan pangan segar di wilayahnya. Dengan demikian, harapan untuk mewujudkan pangan aman bagi masyarakat NTT dapat tercapai, sejalan dengan visi “Kalau tidak aman bukan pangan”, yang menegaskan pentingnya keamanan pangan dalam konsumsi sehari-hari.

Dengan adanya langkah-langkah yang dilakukan oleh OKKPD NTT ini, diharapkan masyarakat NTT dapat lebih percaya dan merasa aman dalam mengonsumsi beras Nona Rote yang beredar di pasaran. Keamanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku usaha dan konsumen, untuk bersama-sama menjaga dan memastikan bahwa pangan yang dikonsumsi aman dan berkualitas.

Similar Posts

  • Musim Hujan NTP NTT Turun, Dinas Pertanian Inisiasi Demo Tani

    Pada Desember 2025, Nilai Tukar Petani Nusa Tenggara Timur (NTP NTT) sebesar 101,46 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 103,67 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P), 92,71 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 96,77 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 105,74 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 96,18 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).

    Terjadi penurunan sebesar 0,09 persen pada Desember 2025 jika dibandingkan dengan NTP November 2025. Perubahan ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih lambat dibandingkan harga bayar.

    Nilai Tukar Petani Desember 2025 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2018 (2018=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

  • Gerakan Tanam Jagung “GEMA AGUNG NTT” Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Daerah

    Kolidoki, Desa Manusak — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan kembali memperkuat komitmen dalam membangun sektor pertanian, khususnya komoditas jagung sebagai salah satu tumpuan ketahanan pangan daerah. Hal ini diwujudkan melalui Gerakan Tanam Jagung “GEMA AGUNG NTT” (Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung NTT) yang dilaksanakan di lahan seluas 1 hektare di Kolidoki, Desa Manusak, Kabupaten Kupang.

    Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Kadis Pertanian Kabupaten Kupang, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, jajaran teknis, para penyuluh pertanian, serta kelompok tani di sekitar lokasi. Seluruh unsur hadir langsung untuk mendukung proses penanaman yang menjadi simbol kolaborasi dan semangat membangun pertanian berbasis agribisnis.

  • Gawat! Staf Presiden Wanti-Wanti RI Masuk Era Defisit Beras, Ada Apa?

    Deputi III Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Perekonomian Edy Priyono mengungkapkan data-data penurunan produksi beras di dalam negeri. Hal ini menjadi ironis di tengah upaya pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

    “Tantangan berikutnya adalah pertanian. Ini mungkin relate dengan kalau Pak Prabowo dan timnya menyampaikan bahwa ingin menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Karena kenyataannya apa? Produksi pangan kita, khususnya beras, terus turun,” kata Edy dikutip Senin, (7/10/2024).

    “Dan kita di Kantor Staf Presiden sudah lihat, bahwa sumbernya adalah penurunan luas panen. Luas panen kita berkurang. Dan luas panen ini berkurang karena luas tanamnya berkurang,” tambahnya.

    Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional – Evaluasi 1 Dekade Pemerintahan Jokowi yang ditayangkan kanal Youtube INDEF, Kamis (3/10/2024).

    Kondisi semakin berkurangnya luas tanam, menjadi semakin berat karena produktivitas yang cenderung stagnan.

  • KABAR GEMBIRA: Petani dan Pelaku Usaha Pertanian di NTT Siap Terima Bantuan dari Kementerian Pertanian RI

    Petani dan pelaku usaha pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini bisa bernafas lega. Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman mengumumkan bahwa pemerintah pusat siap mengalokasikan bantuan, membangun, dan memperbaiki infrastruktur pertanian di seluruh NTT guna mempercepat pencapaian swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

    Pengumuman ini disampaikan dalam Rapat Kerja Kementerian Pertanian bersama para kepala daerah se-NTT di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta. Rapat tersebut dihadiri oleh Pj. Gubernur NTT Andriko Noto Susanto, Gubernur NTT periode 2025-2030 Melkiades Laka Lena, Forkopimda NTT, serta para bupati dan walikota, termasuk Pj. Bupati Kupang Alexon Lumba dan Bupati Kupang periode 2025-2030 Yosef Lede.

    Dalam sambutannya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan infrastruktur pertanian menjadi prioritas utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi NTT.

    “Kami di Kementerian Pertanian siap mengalokasikan bantuan yang dibutuhkan, mulai dari pembangunan irigasi, perbaikan jalan tani, hingga penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Dengan infrastruktur yang lebih baik, produktivitas pertanian akan meningkat dan kesejahteraan petani pun naik,” ujar Amran.

    Lebih lanjut, Amran menyebut bahwa 85% sektor ekonomi di NTT bergantung pada pertanian, peternakan, dan perikanan. Namun, banyak infrastruktur pertanian yang masih kurang memadai. Oleh karena itu, pemerintah pusat akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur guna memastikan efisiensi produksi dan distribusi hasil pertanian.

  • Pemkab Kupang Mengambil Langkah Antisipasi Menghadapi Anomali Iklim di Musim Tanam

    Pemerintah Kabupaten Kupang telah mengambil langkah-langkah antisipatif guna menghadapi dampak anomali iklim terhadap musim tanam petani tahun ini. Persiapan tersebut bertujuan memastikan kegiatan pertanian berjalan optimal serta produktivitas tetap terjaga meskipun pola hujan mengalami perubahan yang tidak menentu.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Amin Juariah, STP, M.M., menyatakan bahwa pihaknya secara aktif mendorong petani untuk segera menyiapkan lahan dengan memanfaatkan curah hujan yang mulai turun. “Persiapan yang meliputi ketersediaan benih dan pupuk sudah terdistribusi. Selain itu, pendampingan teknis kepada petani oleh penyuluh pertanian di sejumlah kecamatan juga telah dilakukan. Untuk musim tanam pertama ini, luas tanam sudah mencapai sekitar seribu tiga ratus hektare,” ujarnya pada wawancara dengan RRI Kupang, Jumat, 23 Januari 2026.